Pulau
nias sebagai pulau utama dengan luas sekitar 5.500 kilometer persegi,
menyimpan sejumlah misteri dan keunikan, mulai dari kehidupan
sehari-hari didesa tradisional, suasana budaya (cultural landscape)
hingga peninggalan megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Masyarakat nias secara turun temurun menyebut
diri sebagai one niba (orang nias) secara harafiah berarti anak manusia
yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai
salah satu puak-puak (suku) berbahasa Austronesia—salah satu leluhur
nusantara yang datang paling awal dari suatu tempat di daratan asia.
Berdasarkan sejumlah bukti peradaban tertua, orang nias dihubungkan
dengan perkembangan tradisi megalitik (batu besar) yang hingga saat ini
masih terlihat keberadaannya. Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti
rumah adat, tradisi lompat batu, dan tari perang telah menjadi ikon
peristiwa yang luluh lantak. Terlebih lagi setelah tertimpa dua bencana :
gelombang tsunami pada 2004 dan gempa bumi pada 2005. untuk
mengembalikan kejayaan seperti sedia kala, sejumlah pihak telah berupaya
membangun kembali nias dengan berbasiskan nilai-nilai budaya yang kini
terancam lenyap.
Desa-desa tradisional di pulau nias, yang masih menyimpan sejumlah
tinggalan budaya dan para penutur sejarah, dapat menjadi pilihan wisata
yang menarik bagi para tetamu yang datang dari jauh. Harapannya, selain
menjalankan roda perekonomian Pulau Nias, kegiatan ini mampu
mengembalikan kecintaan pada nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh
para leluhur.
Nias merupakan pulau terbesar diantara deretan pulau-pulau kecil di
sebelah Barat Pulau Sumatera. Kebudayaan Nias merupakan kebudayaan yang
telahir secara mandiri tanpa ada pengaruh Islam dan Kristen seperti
halnya kebudayaan lain di Indonesia. Berikut ini adalah fakta unik
seputar kebudayaan Nias :
Bangunan Megalitikum
Bentuk bangunan yang ada di kebudayaan ini lebih dekat pada hasil
kebudayaan Megalitikum. Hal ini dapat dilihat dari tumpukan bebatuan
besar yang dijadikan bangunan atau sembahan masyarakat adat Nias.
Kebudayaan unik lainnya pun terlihat dari kebiasaan orang Nias untuk
mengurbankan Kerbau sebagai persembahan kepada para leluhur.
Pengaruh Kristen dan Islam
Kebudayaan ini mulai berubah pada tahun 1830 dan berkembang setelah
kehadiran para misionari dari Jerman di tahun 1865. Adapun pengaruh
Islam masuk ketika orang-orang Nias melakukan perdagangan dengan orang
Aceh dan Melayu pada tahun 1966.
Ono Niha
Ono Niha adalah sebutan bagi masyarakat Nias yang berarti ‘anak
manusia’. Orang-orang ini dianggap memiliki warna kulit yang lebih
kuning dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Tidak Kenal Konsonan di Akhir Kata
Masyarakat Nias menggunakan bahasa rumpun Melayu-Polinesia dengan
karakter vokalisasi yang tidak mengenal huruf konsonan di akhir kata.
Téllo
adalah logat bahasa yang digunakan orang Nias di bagian Barat, Timur,
dan Utara. Sementara itu, masyarakat Nias di bagian Tengah, Selatan, dan
kepulaun Batu menggunakan logat lain.
Benteng Pertahanan U
Banua-banua atau desa-desa yang terletak di kepulauan Nias
ini kebanyakn sulit untuk didatangi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk
pertahanan musuh pada zaman dulu. Keunikan dari bentuk desa di Nias
adalah berbentuk U dengan posisi paling ujung merupakan rumah dari
Kepala Negri (
Tuhénori) atau kepala desa (
Salawa) dan di depannya merupakan lapangan. Sedangkan di sebelah kanan dan kiri adalah rumah penduduk.
Omo
Omo adalah sebutan untuk rumah bagi orang Nias. Ada dua macam bentuk rumah orang Nias,
Omo Hada (rumah adat) dan
Omo Pasisir Rumah biasa yang telah terpengaruh oleh budaya luar.
Omo Hada merupakan rumah kediaman para
Tuhénori, Sawala, dan para bangsawan. Bentuknya yang sangat megah terbuat dari kayu dengan lantai beralasakan daun rumbia.
Ada dua macam bentuk untuk rumah adat berbentuk bulat dan persegi
panjang dengan penompang tiang yang besar dan tinggi menjadikan rumah
panggung yang megah. Di pelataran rumah adat terdapat bangunan-bangunan
megalitikum seperti tugu batu yang disebut
Saita Gari untuk sebutan orang Nias dibagian Selatan,
Béhu di Tenggara, dan
Gowé Zalava di Utara,Timur, dan Barat.
Daro-daro dan Pesta Besar
Selain itu ada juga tempat duduk yang terbuat dari batu dengan sebutan
daro-daro atau
haréfa. Pada
zaman dahulu, bangunan-bangunan tersebut didirikan oleh oleh pemilik
rumah sebagai tanda bahwa mereka telah mengadakan pesta adat yang sangat
besar.
Makanan Khas Nias
Pernahkah Anda berkunjung ke pulau Nias? Jika belum, saatnya Anda
mencoba berwisata ke pulau nias, karena di sana mimiliki banyak objek
wisata yang tidak kalah dengan objek wisata di daerah lain.
Seperti daerah lainnya, Nias mempunyai makanan khas yang tidak kalah
unik dan khas. Makanan khas yang sudah turun temurun, sampai sekarang
terus dibudidayakan oleh masyarakat Nias. Walaupun zaman sudah maju,
banyaknya jenis makanan ala modern saat ini, namun makanan khas Nias
tidak pernah dilupakan.
Berikut adalah beberapa makanan khas di Nias:
1. Ni'owuru
Ni'owuru adalah daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam.
Daging dioleskan atau ditaburkan dengan garam sebanyak-banyaknya.
Semakin banyak garam maka semakin awet pula. Daging tetap awet dan tidak
perlu ditaruh dalam kulkas. Cukup ditaruh dalam tempat tertutup seperti
dalam baskom atau plastik. Daging ini bisa bertahan beberapa bulan
bahkan beberapa tahun bila tempat penyimpanannya bagus. Soal rasa, pasti
bisa ditebak, asin sekali, tapi rasanya tetap rasa daging khas asinnya.
Cara pengawetan seperti ini sudah turun temurun di nias sejak dari nenek
moyang, karena dulu belum ada freezer atau kulkas sehingga inilah cara
orang nias mengawetkan daging. Sebenarnya bukan hanya daging babi saja,
bisa juga daging lain seperti daging ayam, ikan, dsb. Tetapi yg sudah
menjadi kebiasaan adalah mengawetkan daging babi dengan garam, itulah
yang dinamakan ni'owuru, daging babi yang diawetkan dengan garam.
Artikel mengenai Ni’owuru bisa juga di baca di
sini.
2. Gowi Nihandro; Gowi Nitutu
Terbuat dari ubi-ubian seperti ubi jalar, ubi kayu, talas. Ubi direbus
dan kemudian ditumbuk sampai semua bagiannya hancur, kemudian dimakan
dicampur dengan kelapa yang sudah diparut.
3. Harinake
Daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil.
4. Godo-godo
Ubi atau singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah diparut.
5. I’a Soköli; I’a Ni’unagö
Ikan yang diasap, dengan tujuan agar daging ikan menjadi awet. Daging
ikan diasapin beberapa jam, hanya menggunakan asap biasanya menggunakan
sabut kelapa.
6. I’a Budu
Ikan yang diasinkan dengan garam dan dikeringkan dengan panas terik matahari
7. Köfö-köfö
Daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap.
8. Babae
Babae hanya disuguhkan pada acara adat, seperti saat pemberian nama anak
yang baru lahir atau perkawinan. Babae terdiri dari kacang yang
ditumbuk bersama kunyit disuguhkan bersama nasi yang dimasak dengan
periuk tanah. Makanan tradisional babae yang berbahan dasar dari beras
putih yang dimasak dengan menggunakan periuk dari tanah dicampur dengan
kuah yang menyerupai bubur yang terbuat dari kacang putih (kini biasanya
menggunakan kacang kedelai) yang telah dikupas kulitnya, kemudian
direbus dan ditumbuk dan dibubuhi kunyit. Babae tidak dicampur dengan
santan kelapa, tetapi dicampur dengan telur.
9. Tamböyö
Ketupat dengan beras ketan dimasak dalam santan kelapa. Tidak seperti di
tempat lain, ketupat menggunakan beras biasa, namun ketupat di Nias
atau tamböyö menggunakan beras ketan.
10. Boboto
Masakan dari fillet ikan kakap atau kerapu. Daging ikan dilayukan atau
dibusukkan selama dua malam, lalu ditaburi gongsengan kelapa parut
dengan bumbu-bumbu, dibungkus dalam daun singkong, kemudian dikukus
dalam daun singkong.
11. Löma
Makanan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah
sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Löma juga ada di
beberapa daerah lain yang dikenal dengan sebutan lemang.
12. Gae Ni bogö; Gae Ni Faga
Pisang kepok yang dipanggang dengan arang api yang masih menyala.
13. Tuo Nifarö
Minuman yang berasal dari air sadapan pohon kelapa yang telah diolah dengan cara penyulingan.
14. Tuo Mbanua
Minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon pohon nira atau nakhe.
15. Kazimone; Saku Ni lökha
Terbuat dari bahan sagu, cara masaknya seperti membuat bubur, dengan
menggunakan santan kelapa. Sagu yang digunakan adalah sagu yang sudah
dikeringkan, yang diambil adalah hanya bagian sagu yang sudah berbentuk
bulatan-bulanta kecil.
16. Saku Ni Laefe
Saku yang dibakar, tapi sebelumnya dipanaskan di atas tempat
pemanggangan biasanya menggunakan tutup periuk, di buat lebih tipis dan
merata, kemudian baru dibakar.
17. Kinobo
Makanan khas rakyat pulau Telo Nias Selatan yang terbuat dari bahan sagu.
YA'AHOWU ONO NIHA