Kamis, 17 Maret 2016

Budaya Suku Nias Provinsi Sumatera Utara "Ya'ahowu"

 

Adat Istiadat Suku Nias

Sebelum Saya memperkenalkan diri, terlebih dahulu Terimalah Salam Saya dalam Bahasa daerah Nias
YAHOWU. Ini adalah sebagai syarat mendasar bahwa Saya membuat Artikel ini karna Saya 100% di

 Lambang kebesaran Nias Utara
lahirkan dari keturunan suku ono niha (Suku nias). Bapak saya bernama B.ZEGA(+) dan Mama saya bernama S.GEA Kami Berasal dari keluarga yang sangat kental dengan peraturan yang berlaku di dalam adat istiadat nias (suku). Saya tidak bisa bayangkan kenapa keluarga kami sangat kental dengan peraturan dalam adat istiadat suku Nias tersebut, tetapi setelah saya tanya tanya kepada kedua orang tua saya dan juga dari keluarga terdekat saya mereka memberitahukan kepada saya bahwa keturunan sebelum kita (asal-usul kita) adalah Keturunan dari Keluarga orang BerAdat dan mereka selalu diandalkan menjadi Pemuka dalam Tradisi Adat Istiadat yang berlangsung pada saat itu.Baiklah seperti kata pengantar dari saya tadi, sekarang saya akan memperkenalkan diri saya karna ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang!!

  • Nama               M.Zega
  • Tempat Lahir    Nias Desa Botombawo
  • Kecamatan       SITOLU ORI
  • Kabupaten        Nias Utara (KANIRA)
  • Kota                 Gunung Sitoli
  • Propinsi            Sumatera utara
  • No.HP              081274518787
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk menjelaskan tentang ketentuan atau peraturan adat istiadat suku nias yang sudah menjadi dasar Hukum Adat Istiadat Suku Nias yang benar benar menjadi pedoman yang berlaku hingga saat ini di Pulau Nias dan khususnya di Kabupaten Nias Utara antara lain. Saya akan menjelaskan dalam versi Bahasa Suku Nias karna sangat dalam pemahaman bagi pembaca yang berasal dari Pulau Nias.

Penjelasan Pelanggaran dan sekaligus Hukumannya

Ini adalah jenis pelanggaran dan otomatis setiap pelanggaran akan diberikan sangsi (denda yang harus dibayar) jika berbuat salah dalam tradisi adat istiadat nias (Suku nias). Ini peraturan yang sangat kental di pulau Nias, jika melakukan pelanggaran maka di berikan Hukuman sesuai dengan perbuatannya dan terlebih berpedoman pada ketentuan yang telah ditetapkan. Dibawah ini saya akan uraikan satu per satu jenis pelanggaran dan hukumannya antara lian:
Sesuai dengan yang saya uraikan diatas itu menandakan bahwa memang peraturan adat istiadat nias (suku nias) sangat kuat/ketat, sehingga setiap warga masyarakat nias merasa takut untuk melakukan kesalahan. Untuk itu bagi masyarakat nias dimana pun saat ini berada, mohon lebih hati hati dalam bertindak, harus bisa menjaga sikap dan berpikir yang matang supaya tidak terjebak dalam melakukan kesalahan karna setiap pelanggaran pasti ada hukumannya!! Waspadalah! Waspadalah karna pengaruh si Iblis ada dimana mana.
Sekian, YAHOWU
 
 

KEBUDAYAAN SUKU NIAS

Masyarakat dan Kebudayaan "Suku Nias" di Pulau Nias , Sumatera

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah). 


Sejarah Kebudayaan Suku Nias

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.

Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). 
Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan

Mitologi
 
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

 

Penelitian Arkeologi


Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

 

Marga Nias


Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.

 

Khas Nias

 

1. Makanan Khas

  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • raki gae (pisang goreng)
  • tamboyo (ketupat)
  • loma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)

2. Minuman

  • Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe") yang telah diolah dengan cara penyulingan)
  • Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa)

 

Budaya Nias

1. Lompat Batu
 

2. Tari Perang  

 

3. Maena 
4. Tari Moyo
5. Tari Mogaele
6. Sapaan Yaahowu 
7. Fame ono niahalo (pernikahan)
8. Omohada (rumah adat)
9. Fame'e toi nono nihalo(pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikha)

Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

Pakaian Adat Suku Nias

  



Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
  • Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
  • Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
  • Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
  • Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian. 

Pendapat Saya :

Pulau nias sebagai pulau utama dengan luas sekitar 5.500 kilometer persegi, menyimpan sejumlah misteri dan keunikan, mulai dari kehidupan sehari-hari didesa tradisional, suasana budaya (cultural landscape) hingga peninggalan megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Masyarakat nias secara turun temurun menyebut diri sebagai one niba (orang nias) secara harafiah berarti anak manusia yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu puak-puak (suku) berbahasa Austronesia—salah satu leluhur nusantara yang datang paling awal dari suatu tempat di daratan asia.
Berdasarkan sejumlah bukti peradaban tertua, orang nias dihubungkan dengan perkembangan tradisi megalitik (batu besar) yang hingga saat ini masih terlihat keberadaannya. Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti rumah adat, tradisi lompat batu, dan tari perang telah menjadi ikon peristiwa yang luluh lantak. Terlebih lagi setelah tertimpa dua bencana : gelombang tsunami pada 2004 dan gempa bumi pada 2005. untuk mengembalikan kejayaan seperti sedia kala, sejumlah pihak telah berupaya membangun kembali nias dengan berbasiskan nilai-nilai budaya yang kini terancam lenyap.
Desa-desa tradisional di pulau nias, yang masih menyimpan sejumlah tinggalan budaya dan para penutur sejarah, dapat menjadi pilihan wisata yang menarik bagi para tetamu yang datang dari jauh. Harapannya, selain menjalankan roda perekonomian Pulau Nias, kegiatan ini mampu mengembalikan kecintaan pada nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
 
 
 

7 Fakta Unik Kebudayaan Suku Nias

Gambar
Nias merupakan pulau terbesar diantara deretan pulau-pulau kecil di sebelah Barat Pulau Sumatera.  Kebudayaan Nias merupakan kebudayaan yang telahir secara mandiri tanpa ada pengaruh Islam dan Kristen seperti halnya kebudayaan lain di Indonesia. Berikut ini adalah fakta unik seputar kebudayaan Nias :

Bangunan Megalitikum

Bentuk bangunan yang ada di kebudayaan ini lebih dekat pada hasil kebudayaan Megalitikum. Hal ini dapat dilihat dari tumpukan bebatuan besar yang dijadikan bangunan atau sembahan masyarakat adat Nias. Kebudayaan unik lainnya pun terlihat dari kebiasaan orang Nias untuk mengurbankan Kerbau sebagai persembahan kepada para leluhur.

Pengaruh Kristen dan Islam

Kebudayaan ini mulai berubah pada tahun 1830 dan berkembang setelah kehadiran para misionari dari Jerman di tahun 1865. Adapun pengaruh Islam masuk ketika orang-orang Nias melakukan perdagangan dengan orang Aceh dan Melayu pada tahun 1966.

Ono Niha

Ono Niha adalah sebutan bagi masyarakat Nias yang berarti ‘anak manusia’. Orang-orang ini dianggap memiliki warna kulit yang lebih kuning dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tidak Kenal Konsonan di Akhir Kata

Masyarakat Nias menggunakan bahasa rumpun Melayu-Polinesia dengan karakter vokalisasi yang tidak mengenal huruf konsonan di akhir kata. Téllo adalah logat bahasa yang digunakan orang Nias di bagian Barat, Timur, dan Utara. Sementara itu, masyarakat Nias di bagian Tengah, Selatan, dan kepulaun Batu menggunakan logat lain.

Benteng Pertahanan U

Banua-banua atau desa-desa yang terletak di kepulauan Nias ini kebanyakn sulit untuk didatangi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertahanan musuh pada zaman dulu. Keunikan dari bentuk desa di Nias adalah berbentuk U dengan posisi paling ujung merupakan rumah dari Kepala Negri (Tuhénori) atau kepala desa (Salawa) dan di depannya merupakan lapangan. Sedangkan di sebelah kanan dan kiri adalah rumah penduduk.

Omo

Omo adalah sebutan untuk rumah bagi orang Nias. Ada dua macam bentuk rumah orang Nias, Omo Hada (rumah adat) dan Omo Pasisir Rumah biasa yang telah terpengaruh oleh budaya luar.  Omo Hada merupakan rumah kediaman para Tuhénori, Sawala, dan para bangsawan. Bentuknya yang sangat megah terbuat dari kayu dengan lantai beralasakan daun rumbia.
Ada dua macam bentuk untuk rumah adat berbentuk bulat dan persegi panjang dengan penompang tiang yang besar dan tinggi menjadikan rumah panggung yang megah. Di pelataran rumah adat terdapat bangunan-bangunan megalitikum seperti tugu batu yang disebut Saita Gari untuk sebutan orang Nias dibagian Selatan, Béhu di Tenggara, dan Gowé Zalava di Utara,Timur, dan Barat.

Daro-daro dan Pesta Besar

Selain itu ada juga tempat duduk yang terbuat dari batu dengan sebutan daro-daro atau haréfa. Pada zaman dahulu, bangunan-bangunan tersebut didirikan oleh oleh pemilik rumah sebagai tanda bahwa mereka telah mengadakan pesta adat yang sangat besar.


Makanan Khas Nias

Pernahkah Anda berkunjung ke pulau Nias? Jika belum, saatnya Anda mencoba berwisata ke pulau nias, karena di sana mimiliki banyak objek wisata yang tidak kalah dengan objek wisata di daerah lain.

Seperti daerah lainnya, Nias mempunyai makanan khas yang tidak kalah unik dan khas. Makanan khas yang sudah turun temurun, sampai sekarang terus dibudidayakan oleh masyarakat Nias. Walaupun zaman sudah maju, banyaknya jenis makanan ala modern saat ini, namun makanan khas Nias tidak pernah dilupakan.

Berikut adalah beberapa makanan khas di Nias:
1. Ni'owuru
Ni'owuru adalah daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam.  Daging dioleskan atau ditaburkan dengan garam sebanyak-banyaknya. Semakin banyak garam maka semakin awet pula. Daging tetap awet dan tidak perlu ditaruh dalam kulkas. Cukup ditaruh dalam tempat tertutup seperti dalam baskom atau plastik. Daging ini bisa bertahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tempat penyimpanannya bagus. Soal rasa, pasti bisa ditebak, asin sekali, tapi rasanya tetap rasa daging khas asinnya.
Cara pengawetan seperti ini sudah turun temurun di nias sejak dari nenek moyang, karena dulu belum ada freezer atau kulkas sehingga inilah cara orang nias mengawetkan daging. Sebenarnya bukan hanya daging babi saja, bisa juga daging lain seperti daging ayam, ikan, dsb. Tetapi yg sudah menjadi kebiasaan adalah mengawetkan daging babi dengan garam, itulah yang dinamakan ni'owuru, daging babi yang diawetkan dengan garam.  Artikel mengenai Ni’owuru bisa juga di baca di sini.

2. Gowi Nihandro; Gowi Nitutu
Terbuat dari ubi-ubian seperti ubi jalar, ubi kayu, talas. Ubi direbus dan kemudian ditumbuk sampai semua bagiannya hancur, kemudian dimakan dicampur dengan kelapa yang sudah diparut.
3. Harinake
Daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil.

4. Godo-godo
Ubi atau singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah diparut.

5. I’a Soköli; I’a Ni’unagö
Ikan yang diasap, dengan tujuan agar daging ikan menjadi awet. Daging ikan diasapin beberapa jam, hanya menggunakan asap biasanya menggunakan sabut kelapa.

6. I’a Budu
Ikan yang diasinkan dengan garam dan dikeringkan dengan panas terik matahari

7. Köfö-köfö
Daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap.

8. Babae
Babae hanya disuguhkan pada acara adat, seperti saat pemberian nama anak yang baru lahir atau perkawinan. Babae terdiri dari kacang yang ditumbuk bersama kunyit disuguhkan bersama nasi yang dimasak dengan periuk tanah. Makanan tradisional babae yang berbahan dasar dari beras putih yang dimasak dengan menggunakan periuk dari tanah dicampur dengan kuah yang menyerupai bubur yang terbuat dari kacang putih (kini biasanya menggunakan kacang kedelai) yang telah dikupas kulitnya, kemudian direbus dan ditumbuk dan dibubuhi kunyit. Babae tidak dicampur dengan santan kelapa, tetapi dicampur dengan telur.

9. Tamböyö
Ketupat dengan beras ketan dimasak dalam santan kelapa. Tidak seperti di tempat lain, ketupat menggunakan beras biasa, namun ketupat di Nias atau tamböyö menggunakan beras ketan.

10. Boboto
Masakan dari fillet ikan kakap atau kerapu. Daging ikan dilayukan atau dibusukkan selama dua malam, lalu ditaburi gongsengan kelapa parut dengan bumbu-bumbu, dibungkus dalam daun singkong, kemudian dikukus dalam daun singkong.

11. Löma
Makanan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Löma juga ada di beberapa daerah lain yang dikenal dengan sebutan lemang.

12. Gae Ni bogö; Gae Ni Faga
Pisang kepok yang dipanggang dengan arang api yang masih menyala.

13. Tuo Nifarö
Minuman yang berasal dari air sadapan pohon kelapa yang telah diolah dengan cara penyulingan.

14. Tuo Mbanua
Minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon pohon nira atau nakhe.

15. Kazimone; Saku Ni lökha
Terbuat dari bahan sagu, cara masaknya seperti membuat bubur, dengan menggunakan santan kelapa. Sagu yang digunakan adalah sagu yang sudah dikeringkan, yang diambil adalah hanya bagian sagu yang sudah berbentuk bulatan-bulanta kecil.

16. Saku Ni Laefe
Saku yang dibakar, tapi sebelumnya dipanaskan di atas tempat pemanggangan biasanya menggunakan tutup periuk, di buat lebih tipis dan merata, kemudian baru dibakar.

17. Kinobo
Makanan khas rakyat pulau Telo Nias Selatan yang terbuat dari bahan sagu.


YA'AHOWU ONO NIHA
 
 
 

1 komentar:

  1. Bet on Soccer (Australia) Online - JT Hub
    Betting on Soccer (Australia) Online 광주광역 출장안마 - Online - Get the best football betting tips, 보령 출장마사지 predictions & 대전광역 출장안마 odds in the app. Rating: 삼척 출장샵 5 · ‎1 review 김포 출장샵

    BalasHapus